Butuh Sinergi Atasi Persoalan Perempuan dan Anak

14

PONTIANAK – Sejak tahun 2017, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalbar masih berkutat di posisi 30 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Jika berkaca dari indokator IPM di tiga bidang strategis, yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi, yang paling terdampak langsung dari angka-angka teknis tersebut adalah perempuan dan anak.

Mengapa? karena perempuan dan anak yang terdampak secara langsung. Ini senada diungkapkan Syilviani Angreani, Kepala Bidang Partisipasi Lembaga Profesi Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak saat workshop kemitraan strategis berkelanjutan antara dunia usaha dengan lembaga masyarakat untuk kesejahteraan perempuan dan anak di Provinsi Kalbar, Selasa (21/10).

Diakuinya, penyebab IPM Kalbar yang rendah pastinya berimbas kepada kualitas hidup masyarakat. Posisi perempuan dan anak yang tidak bisa berbuat banyak di tengah budaya patriaki yang mendominasi. Kesehatan yang rendah begitu juga pendidikan yang belum memadai memunculkan persoalan ekonomi.

Tiga persoalan ini merupakan kebutuhan dasar dan menjadi hak perempuan dan anak. Pendidikan yang baik harus dikuatkan. Tingkat perempuan lulus SMA sederajat masih minim, kebanyakan perempuan Kalbar hanya tamatan SD begitu juga anak-anak.

“Jika pendidikannya rendah otomatis pengetahuan akan kesehatan akan menjadi terbatas, ujung-ujungnya imbasnya kepada ekonomi keluarga,” ujarnya.

Berbagai upaya dan sinergi dilakukan pemerintah dengan melibatkan masyarakat bahkan swasta dengan mengaktifkan berbagai komunitas. Salah satunya adanya Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) yang dibentuk hampir di kabupaten kota di Indonesia, salah satunya di Kalbar.

Ketua PUSPA Kalbar, Reny Hidzajie mengungkapkan keterlibatan Puspa sangat penting bagi upaya untuk menekan kekerasan perempuan dan anak di sekitar masyarakat.

“Pelibatan harus semua agar persoalan perempuan dan anak bisa diatasi jika semua kelompok masyatakat berpartisipasi,” ujarnya.

Upaya pelihatan berbagai kelompok ini akan mengupayakan bagaimana keterlibatan dalam hal pendidikan, kesehatan dan perekonomian keluarga. Penguatan pendidikan, kesehatan nantinya akan berimbas kepada peningkatan perekonomian.

“Kita mencoba membuat program pendidikan untuk perempuan, mengaktifkan kepedulian akan kesehatan juga pelibatan berbagai stakeholder untuk terjun dengan program CSR yang melatih perempuan untuk usaha mandiri,” terangnya.

Ini kata Reni tidak mudah dan butuh komitmen bersama. Namun, ia yakin kerja sabar dan ihklas akan memudahkan berbagia upaya untuk meningkatkan kualitas keluarga Indonesia lewat peningkatan kualitas perempuan dan anak, dimana PUSPA menjadi bagaian dari perubahan tersebut.(lyn)